MAUREEN HITIPEUW “Aku sayang Mommy.”

Good mother, in any language.

EDITOR’S NOTE   We are so grateful to Maureen: she is our first International (*not Canadian*), bi-lingual, parent-profile! Below you’ll see Maureen’s responses in both English and Bahasa Indonesia.

Jakarta is about 11 hours ahead of us. So good evening Maureen & terima kasih!

AGE   32

HOMETOWN / WHERE DO YOU LIVE NOW?   Indonesia/currently living in Jakarta, the capital of Indonesia

@TWITTER   @tatterscoops

GOOGLE+   Maureen H 

ON THE WEB   www.Tatterscoops.com

NUMBER OF CHILDREN   One

FAVORITE CHILD   if applicable* (we’re joking*) For now, there’s only one

DAY JOB   Executive secretary

RELATIONSHIP STATUS   Divorced

HOW DO YOU COMBINE WORK AND FAMILY?

As a single mom, this is the most challenging part. I work full time, long hours, six days a week. Sometimes my son is still sleeping when I leave, and if things get really busy at the office, I sometimes come home late and he’d be sleeping already.

Having a nanny helps, and because I live with my family I don’t have to worry too much about my son while I’m at work – not that I don’t worry, I am a natural born worrywart!

When I’m home I try to focus on my son and having quality times together. He now understands that Mommy has to work so she can buy him ‘toys’ and other stuff. I do try to come home early from work to help my son with his homework, and we have our bedtime rituals, which are the highlight of my day. We get to talk about our day and I get to cuddle with him. When I’m home, I do everything for him and send the Nanny to rest or home (on the weekends).

BAGAIMANA ANDA MENYEIMBANGKAN ANTARA PEKERJAAN DAN KELUARGA?
Sebagai single mom hal ini adalah tantantangan terberat. Saya bekerja dari pagi hingga sore terkadang sampai malam jika pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Terkadang saat saya berangkat kantor anak saya masih tidur dan jika sedang sibuk dia sudah tidur saat saya pulang di malam hari.

Bisa di bilang saya termasuk beruntung karena mempunyai pengasuh dan saya tinggal dengan keluarga jadi saya tidak begitu mengkhawatirkan anak saat saya harus bekerja. Tentu saja saya masih terkadang mencemaskannya tapi saya memang sering cemas dari lahir!

Saat saya di rumah saya berusaha mencurahkan perhatian saya kepada anak dan menghabiskan waktu yang berkualitas, Saat ini ia sudah paham bahwa Mommy harus bekerja agar bisa memenuhi kebutuhannya (seperti mainan!). Saya berusaha untuk pulang kantor tepat waktu sehingga bisa membantunya mengerjakan PR dari sekolah dan kami juga memiliki ritual malam sebelum dia tidur dimana kami akan ‘ngobrol’ dan dia bermanja-manja dengan saya. Saat saya di rumah juga saya membebastugaskan si Mbak dan melakukan semuanya untuk anak sendiri. Si Mbak juga saya liburkan setiap akhir pecan.

HAS PARENTING CHANGED YOU AS AN INDIVIDUAL?

Definitely! I’m not the most patient person in the world, so being a parent really slows me down and has taught me how to master the art of patience. I can still be impatient with others sometimes, and yes, with my son too, but I’m working on that.

I’d still love to try bungee jumping one day though! I’m a bit of an adrenalin junky and fortunately (or unfortunately?) it passed down to my son who loves roller coasters. He rode a small one at Universal Studios in Singapore some months ago and he begged for more!

APAKAH MENJADI ORANG TUA TELAH MERUBAH ANDA SECARA PRIBADI?

Tentu saja! Saya bukan orang yang memiliki kesabaran tinggi dan menjadi orang tua mengajarkan saya untuk banyak bersabar. Terkadang saya masih suka kurang sabar tapi bagi saya kesabaran itu sesuatu yang harus terus saya pelajari dan dalami.

Saya termasuk orang yang suka kegiatan yang memacu adrenalin seperti dan si kecil kelihatannya sudah mewarisi hal yang sama. Si kecil tergila-gila dengan roller coaster. Saat kami jalan-jalan ke Universal Studio di Singapore si kecil mencoba roller coaster ukuran kecil dan dia seperti ketagihan bahkan minta untuk naik berkali-kali.

WHO ELSE PROVIDES CHILDCARE FOR YOUR CHILDREN?

My family definitely helps out as I’m currently living with them. My brothers provide the much-needed male bonding (and roughhousing!) for my son. I do have a nanny that lives with us and who goes home during the weekends. Here, nannies/ domestic help is much more affordable than back in the US.

In Indonesia, it is common for children to live with their parents way past 18. My two brothers are both in their 20s, single, and working full time, and they still live with my parents. This is a great family-ties culture that we have, one that helped me through my divorce and being a single mom in a country that still thinks divorce is a taboo thing.

APAKAH ANDA MENDAPAT BANTUAN DALAM MENGASUH ANAK?

Pihak keluarga saya sangat membantu. Adik-adik pria saya memberikan menjalin hubungan yang baik dengan anak saya, mereka juga paman yang baik yang bersedia bermain dengan keponakannya. Saya juga memiliki pengasuk yang tinggal di rumah dan pulang saat akhir pekan. Di Indonesia, pengasuh/pembantu harganya jauh lebih murah bila di banding dengan di Amerika.

Adalah hal yang lumrah bagi orang Indonesia untuk tetap tinggal bersama orangtua kandung hingga dewasa. Adik-adik saya yang usianya di atas 20 tahun dan sudah bekerja juga masih tinggal di rumah orang tua. Ini adalah salah satu unsur kekeluargaan yang erat dari orang Indonesia. Mengingat di sini perceraian masih merupakan hal yang dianggap tidak baik/tabu, maka hubungan kekeluargaan yang erat itu lah yang menguatkan saya saat harus melalui masa-masa perceraian dan menjalani kehidupan sebagai single mom.

WHAT IS YOUR WORST PARENTING MOMENT?

My son’s first days in life started off a bit rocky with him being five weeks early due to my severe pre-eclampsia. It took three days after he was born from an emergency c-section before I could finally hold him. Luckily, we only spent a week in the hospital.

Then there was that scare of rushing him to the ER in the middle of the night because his wheezing was so bad; he was a little over a year. He ended up being hospitalized for three days from bronchiolitis. That first night in the hospital he had to go under an oxygen tent and it scared him. He was screaming his head off almost all night long while I sat there, in the hospital bed, holding him inside the tent.

Seeing your baby hurting and not able to do anything to take their pain away really is the worst parenting moment.

MASA ANDA TERBURUK DALAM PERAN SEBAGAI ORANG TUA?

Karena anak saya terlahir prematur (lebih cepat 5 minggu) akibat penyakit preeclampsia yang saya derita, hari-hari pertama kehidupan si kecil terasa sangat berat. Saya harus menunggu 3 hari sebelum dapat menggendongnya karena ia harus di rawat di ICU. Untungnya, kami hanya menghabiskan waktu satu minggu di rumah sakit.

Waktu si kecil berumur setahun lebih, kami harus melarikannya ke Unit Gawat Darurat di tengah malam dan akhirnya ia harus di rawat karena menderita bronchiolitis. Malam pertama di rumah sakit terasa seperti mimpi buruk karena ia ketakutan dengan suara bising mesin oksigen mirip tenda yang di pasang di atas tempat tidurnya dan saya harus duduk memeluk dan mencoba menenangkannya saat dia dia mengamuk dan menangis hampir sepanjang malam.

Perasaan tidak berdaya itu yang sangat berat.

WHAT IS YOUR BEST PARENTING MOMENT?

There are plenty of these moments. The first time my son spontaneously said, “I love you, Mommy!”

My ex-husband and I have been raising our son to be bilingual, especially since he is mixed (Indonesian – American). Now that we are living back in Indonesia full time (all three of us), he goes to an English speaking Kindergarten, but at home everyone (my family + the nanny) speaks to him in Indonesian. At first he mixed things up, but now he knows when to use his English or his Indonesian. So another best moment was to hear him tell me he loves me in Indonesian.

MASA TERBAIK ANDA DALAM PERAN SEBAGAI ORANG TUA?

Ada banyak momen-momen yang membuat saya bangga menjadi orang tua misalnya saat anak dengan spontan menyatakan dia menyanyangi saya.

Mantan suami dan saya sudah sepakat untuk membesarkan anak dengan dua bahasa mengingat si kecil memiliki darah campuran dua kultur (Indonesia & Amerika). Sejak kembali tinggal di Indonesia, anak saya bersekolah di TK dengan bahasa pangantar Inggris namun di rumah dengan keluarga dan Mbak-nya dia sudah terbiasa berbahasa Indonesia. Awalnya, dia suka mencampur-adukkan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris – yang adalah normal untuk anak-anak dwi bahasa. Salah satu momen terbaik adalah saat ia mengatakan “Aku sayang Mommy,” dalam Bahasa Indonesia.

Lisa D

Lisa Duggan is the founder of The Modern Village, and publisher of TheParentduJour.com and TheMotherHoodBlog.com.

3 thoughts on “MAUREEN HITIPEUW “Aku sayang Mommy.”

  • October 6, 2011 at 1:00 am
    Permalink

    It’s great to see viewpoints from a mom who lives on the other side of the world. Great post, Maureen!

    Reply
  • October 6, 2011 at 1:50 pm
    Permalink

    Thank you for having me here. I am truly honored.
    BiculturalMama, thank you for starting this whole thing up for me 🙂 Really appreciate it!

    Reply
  • Pingback: From A Thankful Heart | Scoops of Joy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *